Dalam Diam, Aku Menyebut Namamu
Cinta tidak selalu datang dalam gegap gempita. Terkadang, ia menyelinap pelan dalam diam, menetap tanpa banyak kata, dan tumbuh di antara keraguan dan doa. Kisah ini bukan tentang cinta yang instan atau romansa yang berlebihan. Ini adalah kisah tentang dua hati yang saling menyimpan nama satu sama lain dalam diam, saling berdoa tanpa kepastian, dan tetap berharap meski waktu seolah menjauhkan.
Namanya Inara. Seperti cahaya lembut yang menenangkan hati siapa pun yang mengenalnya. Tatapannya teduh, senyumnya ringan, tapi menyisakan bekas lama dalam ingatan. Ia tidak pernah menyadari bahwa kehadirannya menjadi alasan seseorang bernama Zayyad mengucap doa lebih lama setiap malam.
Pertemuan mereka bukan hal luar biasa—sebuah majelis kecil, tempat ilmu dan tawa bersisian. Tapi bagi Zayyad, hari itu adalah awal dari hatinya bergetar. Ia yang biasanya tenang dan pendiam, mendapati dirinya menunggu satu senyuman. Bukan senyuman siapa-siapa, tapi senyuman gadis itu: Inara.
Zayyad bukan tipe lelaki yang lihai bicara. Tapi ia lelaki yang setia dalam diam. Rasa itu ia rawat dalam sunyi, dengan malu-malu ia sesekali menunjukkan perhatiannya. Suatu hari, Inara mengunggah fotonya dengan caption sederhana. Zayyad membalasnya: "Punya siapa ini, hayoo?" disertai emoji manja. Sebuah candaan ringan, tapi menyimpan makna yang sulit dijelaskan.
Inara tertawa, tapi juga diam. Entah mengapa, kalimat itu membekas. Ia mulai bertanya-tanya—mengapa seseorang seperti Zayyad, yang jarang menunjukkan dirinya, tiba-tiba muncul dalam ruang privatnya?
Hari-hari berjalan. Tak banyak yang berubah di luar, tapi Inara tahu: perasaannya mulai tumbuh. Namun, datang kabar yang membuat hatinya guncang. Seseorang yang dekat dengannya memberi tahu bahwa Zayyad disebut tengah menjalani proses ta’aruf dengan gadis lain. Rasanya seperti mendung yang turun perlahan, menyelimuti langit hatinya.
“Kenapa ia mendekatiku dulu?” bisiknya dalam hati. “Apakah semua ini hanya permainan waktu?”
Tapi Inara bukan perempuan yang mudah membenci. Ia mencoba tabah, mencoba ikhlas. Meskipun hatinya sakit, ia memilih untuk diam dan menatap langit malam. Dalam doanya, namanya tetap disebut.
Sementara itu, Zayyad memandangi layar ponselnya. Ia melihat foto Inara. Dalam foto itu, mereka berdiri berdekatan, seolah dunia menyempit pada dua sosok yang sedang menyimpan rahasia hati. Zayyad mengingat senyuman Inara. Ia ragu, takut, sekaligus ingin. Ia ingin menyatakan segalanya, tapi ada sesuatu yang membuatnya menahan.
Ia menulis dalam jurnal kecil miliknya:
“Ya Allah, jika ia memang bukan untukku, kuatkan hatiku. Tapi jika Engkau masih menyisakan ruang antara kami, pertemukan aku dan dirinya dalam takdir terbaik.”
Di sisi lain, Inara sering menemukan like di unggahannya. Selalu dari nama yang sama—Zayyad. Ia tidak pernah lupa siapa yang pertama memanggilnya “adek”, siapa yang pertama membuatnya merasa berarti.
Hari-hari berlalu, dan meskipun tak ada percakapan baru, Inara tetap menyimpan harapan kecil. Cinta itu belum mati. Ia hanya sedang disembunyikan di balik dinding waktu dan jarak.
Suatu malam, setelah lama tak berbicara, notifikasi itu muncul. Sebuah pesan dari Zayyad:
“Inara, boleh aku jujur sekali lagi? Sejak pertama kali aku melihatmu, aku tahu… kamu berbeda. Aku sempat menjauh karena ragu, karena takut tak cukup pantas. Tapi jika kamu mengizinkan, aku ingin memulai kembali… bukan sebagai teman, tapi sebagai seseorang yang ingin menjagamu dengan izin Allah.”
Inara tak segera membalas. Ia menangis. Bukan karena sedih, tapi karena hatinya akhirnya menemukan tempat untuk pulang.
Dan malam itu, dua nama kembali disebut dalam doa. Bukan dalam harap yang asing, tapi dalam cinta yang tumbuh dari keikhlasan dan waktu.
---
Beberapa bulan berlalu. Inara dan Zayyad mulai membangun komunikasi yang lebih jujur. Mereka saling berbagi mimpi, cerita masa kecil, dan ketakutan masing-masing. Dalam setiap percakapan, Inara semakin yakin bahwa cinta tidak selalu datang dengan gemuruh. Kadang ia hadir dalam bentuk ketenangan.
Zayyad pun berubah. Ia tidak lagi hanya mengagumi dalam diam. Ia menunjukkan niatnya kepada keluarga, mendatangi orang tua Inara dengan penuh hormat. Suatu pagi yang sejuk, Zayyad datang bersama ibunya, menyampaikan kesungguhan hatinya.
Air mata haru jatuh dari pipi Inara. Ia tak menyangka, lelaki yang dulu hanya membalas story Instagram dengan candaan kini berdiri tegap di hadapan keluarganya, memohon restu.
Dan akhirnya, dalam suasana sederhana namun khidmat, mereka bersatu dalam ikatan yang suci. Akad itu diucap, doa-doa bergema. Nama-nama mereka tak lagi hanya disebut dalam diam, tapi dalam ijab dan kabul.
Komentar
Posting Komentar