Aku, Kamu, dan Alam yang Syahdu

Ada sepasang kaki yang sedang telah menginjak dan meninggalkan jejak di pertanahan yang menggambarkan dua pasang sepatu. Kemudian, mencoba menengadah kepala melihat pemandangan langit yang biru. Matahari pun bersinar menyeruak masuk dalam mataku. Sang raja agung nampak begitu syahdu. Sinarnya yang tidak terlalu terang meninggalkan ilusi seru. Daku merentangkan kedua lengan sembari menyambut riuk angin yang mendinginkan tubuhku. Angin sepoi-sepoi itu ikut menerbangkan dedaunan yang masih berlekatan dengan ranting pohon yang bergoyang penuh irama merdu.

Mencoba menghirup aroma alam semesta yang harum, seharum hati kecil ini dirasa. Daku lihat dua pasang burung nuri beterbangan kesana-kemari, kemudian hinggap di pepohonan tinggi. Asik bercengkrama, bergoyang, hingga seekor burung nuri betina sudah tak kuat lagi menahan cengkraman cakarnya. Hampir jatuh ia ke dalam sumur yang terlihat begitu dalam. Sang nuri jantan, berusaha menolong betina dengan cara didekatkan paruhnya ke sayap betina yang kanan. Sungguh, pemandangan yang romantis ditambah hati ini berdebar pilu. Akhirnya, sang jantan berhasil. Tidak membiarkan sang betina jatuh ke dalam sumur itu, ia hanya ingin sang betina jatuh ke dalam pelukan hangatnya. Mereka hanya saling tersenyum, tersipu malu.

Daku pun mempalingkan penglihatan dari mereka berdua, mencoba memandang kembali temaram cahaya yang begitu oranye-nya. Gemerisik angin kembali menggelitik badan, daku kemudian menutup kedua mata. Di telinga, dirasa angin begitu kencang suaranya. Rindu akan alam terbayar akhirnya. Semesta dirasa indah dengan jiwa, sangat indah. Begitu indah, Sang Pencipta menciptakan alam semesta. Ku sangat bersyukur, sangat bersyukur dapat merasakan keindahan alam natural ini, penuh dengan warna-warni. Mewarnakan hidup ini, tanpa kehampaan dan kekosongan belaka.

Terima kasih Tuhan, dengan alam yang syahdu yang telah Kau ciptakan. Daku merasakan kesenangan yang sangat memancarkan kegembiraan hati. Ternyata berteman dengan alam adalah satu hal yang menimbulkan harmoni. 

Merdu, syahdu, dan aku. 

Kamu pun begitu, rindu dengan alam kembali bertemu.

Persembahan puisi dariku untukmu:

Aku, Kamu dan Alam yang Syahdu

Alam.

Kau telah membuat kalbuku riang,

memandang dikau membuat daku senang.

Alam.

Tetap menjadi teman yang menerang,

Seperti terangnya temaram sang bintang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dalam Diam, Aku Menyebut Namamu

Cashless Lifestyle: Apakah QRIS Bikin Anak Muda Jadi Lebih Boros?

Mimpi Pendidikan Tinggi di Negeri